Kamis, 25 Oktober 2012

Mahasiswa Indonesia !



PERGERAKAN MAHASISWA NASIONAL

“Bangun Pemudi Pemuda Indonesia
Lengan bajumu singsingkan untuk Negara
Masa yang akan datang, KEWAJIBANMUlah
Menjadi TANGGUNGANMU terhadap NUSA
Menjadi TANGGUNGANMU terhadap NUSA

Sudi tetap berusaha, hati JUJUR serta IKHLAS
Tak usah banyak bicara, trus KERJA KERAS
Hati TEGUH dan LURUS
Pikir tetap JERNIH
Bertingkahlaku HALUS, HAI PUTRA NEGERI !
Bertingkahlaku HALUS, HAI PUTRA NEGERI!”

PEMUDI-PEMUDA, BANGKITLAH SEMUA

MARI MEMBANGUN BANGSA

BANGSA NAN MERDEKA !!!

Apabila kita mendengar kata Pergerakan Mahasiswa Nasional, maka yang terbersit pertama kali di pikiran kita adalah aksi demo, anarkis dan sebagainya, namun, persepsi itu tidah seluruhnya benar. Gerakan mahasiswa nasional adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya .Jadi, pergerakan mahasiswa tidak sepenuhnya identik dengan aksi demo dan anarkis. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan pengusung berbagai perubahan.
Sebenarnya, pergerakan mahasiswa nasional sudah dimulai sejak dulu pada masa kolonialisme Belanda. Berikut adalah beberapa gerakan mahasiswa nasional di Indonesia :
1.      Tahun 1908

a.       Boedi Oetomo
Merupakan pergerakan mahasiswa pertama kali di Indonesia. Didirikan oleh pemuda pelajar mahasiswa dari STOVIA di Jakarta 20 Mei 1908. Wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkan. Misi utama organisasi ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan di kalangan rakyat Indonesiauntuk memperoleh kemerdekaan dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang diberikan untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.
Kehadiran organisasi ini menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai actor terdepannya.

b.      Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging)
Merupakan organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Belanda tahun 1908. Awalnya, tujuan utama organisasi ini hanya untuk mengadakan pesta dansa dan pidato-pidato, namun sejak Ki Hajar Dewantara masuk tahun 1913, mereka mulai memikirkan mengenai masa depan Indonesia, semenjak itu organisasi ini memasuki kancah politik. Organisasi ini menerbitkan sebuah majalah yaitu Hindia Poetra sebagai sarana untuk menyebarkan ide-ide antikolonial.

2.      Tahun 1928
Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Kongres Pemuda II. Sumaph Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal tersebut Bangsa Indonesia dilahirkan.

“Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia”
“Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia”
 “Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”
3.       Tahun 1945
Dinamika pergerakan nasional ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi. Akibat kondisi pendidikan maupun politik pada masa kependudukan Jepang jauh lebih represif daripada masa colonial, segala organisasi pelajar dan mahasiswa dibubarkan. Akhirnya kebanyakan mahasiswa meimilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi bersama. Peristiwa penting pada tahun ini adalah peristiwa Rengasdengklok, ketika para pemuda terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Moh. Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan.  

4.      Tahun 1966
Para mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) pada tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi. Tujuan utamanya agar para aktivis mahasiswa lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI.

5.      Tahun 1974
Pada tahun ini, generasi 1974 mengalami konfrontasi dengan militer. Sebenarnya, sebelum tahun 1970-an para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru.
Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga BBM, lahir gerakan “Mahasaiswa Menggugat” yang dimotori oleh Arif Budiman dengan misi aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM dan korupsi. Kemudian pemuda dan mahasiswa mengambil inisiatif dengan membentuk Komisi Anti Korupsi (KAK) yang diketuai oleh Wilopo. Pada masa ini, berbagai borok pemerintahan Orde Baru mencuat. Gerakan Mahasiswa di Jakarta meneriakkan isu “GANYANG KORUPSI” sebagai salah satu tuntutan “TRITURA BARU” dan muncul Peristiwa MALARI.
6.      Tahun 1977-1978
Pada periode ini terjadi pendudukan militer di kampus-kampus, karena mahasiswa dianggap telah melakukan pembangkangan politik dan banyak melakukan aksi di kampus. Meski demikian, pergerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka dalam menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.

7.    Tahun 1998
Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN, para mahasiswa melakukan aksi pendudukan gedung MPR/DPR akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif dilakukan pemerintah yang menewaskan aktivis mahasiswa untuk meredam gerakan ini. Mahasiswa pun berjanji akan terus mengawal reformasi dengan 6 visinya: amandemen konstitusi, cabut dwi fungsi TNI, penegakkan supremasi hukum, otonomi daerah, budayakan demokrasi, serta mengadili Soeharto dan kroninya. Akan tetapi, perjalanan mengawal 6 visi reformasi terhalang. Salah satu partai politik mulai melakukan kaderisasinya dengan pengakaran melalui pembentukan jaringan dari skala besar (kampus/wilayah/provinsi) hingga ke skala kecil (lingkup jurusan dan angkatan). Pergerakan pun sedikit demi sedikit mulai dikurangi porsinya. Mahasiswa yang telanjur menjadi kader parpol tersebut praktis mengikuti apa pun yang disampaikan dewan syuro parpol terkait. Sebaliknya, mahasiswa yang telanjur terbiasa menyuarakan hati nurani rakyat terpaksa didepak dari kaderisasi
Saat aktivis BEM 2002-2003 sudah mempunyai BEM Se-Indonesia (SI), aktivis BEM 2003-2004 justru menandinginya dengan BEM SE-Jabodetabek. Dari sisi masa dan pengalaman, kekuatan BEM Se-Jabodetabek masih sangat jauh dari BEM SI. Hanya saja, karena terjadi di masa BEM 2003-2004, praktis legalitas BEM 2002-2003 sudah tidak diakui yang menyebabkan dukungan terhadap aktivitas pergerakannya kian surut. Kondisi era 2004-2008 adalah kondisi dimana pergerakan mahasiswa sudah benar-benar kehilangan ruhnya. Bahkan pergerakan terakhir yang mereka lakukan hanyalah bersifat seremonial, yaitu peringatan 10 tahun reformasi, bahkan bukan peringatan 10 tahun matinya reformasi.
Dan momen rencana kenaikan BBM bersubsidi pada awal April adalah momen kembalinya munculnya pergerakan mahasiswa yang sayangnya justru dari aliansi kiri. Maka jangan heran dengan model aksi mereka yang rusuh dan memakan korban karena ini sesuai dengan nilai revolusi yang diusungnya. Nama mahasiswa pun tercoreng. Sayangnya, gerakan kanan sudah telanjur memiliki kontrak politik terhadap partai yang saat ini berkoalaisi dengan partai penguasa hingga suara gerakan kanan pun nyaris tak terdengar.